Tentunya perlu diketahui syarat dan ketentuannya. Pertama, soal kecepatannya. Si pelari punya kecepatan lari sama dengan orang biasa (normal, sehat) lainnya. Dan si Kura-kura juga sama dengan kura-kura pada umumnya. Yang kedua, keduanya lari pada satu garis yang sama. Dan yang terakhir, karena si Pelari larinya lebih cepat maka si Kura-kura dibiarkan 100 meter di depan. Dan ketika peluit dibunyikan keduanya lari bersamaan ke arah dan satu garis yang sama. Tidak ada yang curang. Pertanyaannya adalah, bisakah si Pelari melewati si Kura-kura? Jawabannya tidak akan pernah bisa. Ingat, ini bukan pertanyaan biasa!
Mungkin teman-teman tidak habis pikir kenapa bisa begitu. Padahal si Pelari lebih cepat biarpun si Kura-kura ada 100 meter di depan. Penjelasannya sangat sederhana. Jika si Pelari sudah maju 100 meter ke depan (titik awal si kura-kura), apakah dia sudah melewati si Kura-kura? Jawabannya tidak. Kerena si Kura-kura juga ikut lari. Dan dia sudah berada 10 meter di depan si Pelari. Kalau si Pelari maju 10 meter lagi maka si Kura-kura sudah ada 1 meter di depannya. Jika si Pelari maju 1 meter lagi maka si Kura-kura juga sudah ada 0.1 meter di depannya. Begitu seterusnya. Pelari tidak akan pernah bisa melampaui si Kura-kura. Hanya dapat mendekati. Selalu ada jarak di antara mereka.
Contoh kasus di atas banyak kita temukan di kehidupan sehari-hari. Misalnya kejar mengejar antara jarum jam dan jarum menit. Termasuk dalam urusan mengejar cewek/cowok.
Dari pertanyaan itulah yang melandasi teori limit dalam matematika. Ada soal matematika, 1 dibagi x atau (1/x). Kalau nilai x diganti dengan 0 maka hasilnya pasti error. Tapi dengan pendekatan limit, soal itu bisa dijawab. Limit x menuju 0 (Lim x->0)(1/x). Artinya ada angka yang mendekati nol. Nilanya bisa 0,01 atau 0.00000001 yang jelas bukan atau tidak sama dengan nol.
Sama halnya dengan 1 + 1, sesungguhnya hasilnya tidak tepat =2. Tapi dengan tingkat kepercayaan dan toleransi tertentu kita bisa menerima hasilnya sebagai 2.
Dari kisah pelari tersebut kita bisa ambil hikmah dalam kehidupan sehari-hari bahwa manusia tidak pernah akan puas dengan apa yang mereka telah raih. Ketika sudah sampai pada puncaknya kita pasti akan terus mencari yang lebih.
Begitu juga ketika kita mengejar sebuah impian. Buatlah setinggi-tingginya karena jika kita mematoknya seperti itu maka kita tidak akan pernah melampauinya. Stop Dreaming Start Action.
0 Komentar:
Untuk menghargai tulisan ini cukup dengan memberikan komentar.
(NO SPAM). Dan tidak melakukan PLAGIAT tanpa izin. Terima Kasih
Belum Ada yang komentar
Ayoo.. Berikan pendapatmu.
Sekecil apapun itu, pasti ada nilainya
Poskan Komentar