Rukun Islam ibarat membangun rumah di surga

Sungguh Islam mempunyai nilai-nilai yang sangat tinggi dan luhur. Setiap amalan dan ibadah ada makna yang terkandung di dalamnya. Tergantung sejauh mana kita memikirkannya. Termasuk dalam Lima Rukun Islam. Jika kita melaksanakannya dengan baik dan benar maka ibaratnya kita telah membangun sebuah rumah di surga. Sebuah rumah yang sempurna tempat tinggal kita nanti.

Rukun Islam terdiri atas lima perkara yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji (jika mampu). Setiap perkara rukun islam secara berurutan mengisyaratkan tentang tata cara membangun sebuah rumah yang sempurna mulai dari awal sampai akhir pembangunan hingga isi-isinya.

Untuk memulai membangun sebuah rumah, hal pertama yang harus di penuhi adalah tanahnya. Dimana harus dibangun. Dengan mengucapkan tiada tuhan selain Allah SWT artinya kita telah diberikan oleh Allah SWT sebidang tanah di surga. Tanah yang akan dibangun nanti harus layak dan kuat. Itu tergantung dari kemimanan kita kepada Allah SWT. Jangan membangun di dua tanah yang berbeda yaitu tanah milik Allah dan tanah labil yang akan runtuh nantinya. Itu artinya membangun rumah di pinggir jurang.

Setelah tanah sudah kita dapatkan maka yang dilakukan selanjutnya adalah membangun pondasinya. Dengan mengucapkan Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka kita telah membangun pondasinya. Dari Beliaulah Alquran diturunkan dan sunnahnya yang menjadi pegangan, arahan serta panduan kita sebagai umat Islam.

Setelah membangun pondasinya maka selanjutnya adalah kita akan membangun tiang-tiangnya dari shalat lima waktu yang sering kita laksanakan. Karena shalat adalah tiang agama. Satu saja tiang tidak ada atau tidak kuat maka rumah bisa rubuh dan mencederai penghuninya.

Rukun Islam selanjutnya adalah berpuasa di bulan Ramadhan. Puasa artinya menahan. Di dalam puasa mengajarkan kita bagaimana menahan nafsu halal dan haram sesuai dengan ketentuannya. Bagian rumah yang berfungsi menahan yaitu dinding atau tembok.


Membayar zakat ibaratnya membangun atap sebuah rumah. Atap fungsinya menaungi apa saja yang ada dibawahnya dari terjangan panas matahari dan hujan. Seperti itu jugalah manfaat dari zakat yang kita keluarkan untuk orang-orang yang tidak mampu.

Dan yang terakhir adalah mengisi rumah itu dengan perhiasan sehingga membuatnya menjadi indah, bernilai dan berharga. Gelar Haji seperti sebuah perhiasan bagi nama kita sama seperti gelar sarjana. Beberapa orang tidak mau terima kalau gelarnya tidak tidak ikut ditulis. Karena untuk mendapatkan gelar itu tidak mudah sebab butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Di sinilah diuji apakah Haji adalah hanya sebuah gelar atau sebuah sifat. Namun bagaimanapun kita semua (haji atau tidak) akan menjadapatkan satu gelar pasti yaitu almarhum (alm) suatu hari nanti.


Sekarang sebuah rumah telah terbangun dengan sempurna. Di atas tanah yang subur, pondasi yang kuat serta ada tiang, dinding dan atap yang kuat dan kokoh. Ditambah perhiasaan surga yang mulia, perabotan dari amal ibadah serta cahaya rumah dari ilmu yang bermanfaat.

Namun rumah yang sudah kita bangun tersebut masih harus diuji kekuatannya. Jangan sampai sedikit saja badai, gempa atau banjir membuat rumah itu rubuh dan kita tidak punya lagi tempat tinggal di surga nanti. Itu artinya kita hanya numpang membangun rumah tanpa bisa ditinggali. Tapi jangan khawatir mereka para gelandangan siap ditampung di neraka jahanam.

Setiap Rukun Islam sama pentingnya. Jangan mendahulukan yang satu dan mengabaikan yang lainnya. Misalnya terlalu mengurusi salah zakat dan sedekah hingga menjadi sombong. Padahal tiang rumahnya sendiri sangat rapuh. Jadi bagaimana caranya bisa menopang diding dan atap dengan baik serta menjaga isi rumahnya?

Postingan kali ini saya tulis buat kedua orang tua saya yang pada tahun ini melaksanakan Rukun Islam yang kelima guna menyempurnakan keislamannya. Semoga menjadi haji yang mabrur, Insya Allah. Dan kepada diri saya sendiri yang tengah berjuang dan berkorban untuk mendapatkan gelar Sarjana Sains (S.Si). Amin.


Artikel Terkait:

0 Komentar:


Untuk menghargai tulisan ini cukup dengan memberikan komentar.
(NO SPAM). Dan tidak melakukan PLAGIAT tanpa izin. Terima Kasih


Belum Ada yang komentar

Ayoo.. Berikan pendapatmu.
Sekecil apapun itu, pasti ada nilainya

Poskan Komentar